Keluarga

Cara Bijak Sikapi Kebiasaan Buruk Anak

Cara Bijak sikapi dan menyikapi kebiasaan buruk yang dilakukan oleh anak. Terkadang kebiasaan buruk anak sangat membuat orang tua menjadi khawatir. Banyak sekali dampak negatif yang dihasilkan jika pola dan kebiasaan buruk merajalela khusunya dikalangan anak anak. Seperti sikecil sedang mengisap jempol, memakan rambut, bermain upil atau menggigit kuku. Kita harus mengenali faktor faktor maupun penyebab kemunculan kebiasaan kebiasaan buruk tersebut. Untuk itu marilah simak ulasannya berikut ini.

Banyak para orang tua yang kwalahan dengan ulah putra dan putrinya. Dari permasalahan mengisap upil, kencing sembarangan, sampai tidur dengan bantal guling kesayangannya. Meski para orang tua tau itu sangat berpotensi membahayakan bagi para putra dan putrinya. Sianak kerap memunculkan kebiasaan yang benar benar susah atau sulit dihilangkan.

Pasalnya ada beberapa anak yang keras kepala, saat kebiasaannya itu tidak diperbolehkan ia kerap menangis dan merajuk seketika. Ini lah yang kemudian membuat urusan bagi para orang tua menjadi rumit. Banyak sekali bentuk bentuk kebiasaan buruk anak. Yang saya sebutkan diatas mungkin hanya beberapa dan saya tau persis itu ada sangat banyak sekali.

Cara menghentikan kebiasaan buruk anak
Kebiasaan buruk anak 

RASA AMAN

Satu hal yang perlu orang tua ketahui. Kebiasaan kebiasaan buruk tersebut tidak datang tiba tiba, dan juga bukan tanpa alasan. Akan melakukan sebuah kebiasaan buruk karena merasa kurang nyaman dengan keadaan. Menurut psikolog anak Erfianne S.Cicilia, Psi, tempat teraman untuk bayi adalah perut ibu.

Ketika berada dalam rahim ibu bayi merasa aman begitu lahir ke dunia yang harus beradaptasi.Situasinya mirip dengan kita saat pindah kerja atau pindah rumah. Di tempat baru tersebut tentu banyak penyesuaian yang harus dilakukan.

Ketika bayi itu lahir dan terus Bertambah Umur insting untuk mencari keamanan tetap ada. Ketika bayi itu lahir dan terus Bertambah Umur insting untuk mencari keamanan tetap ada. Bila sang Ibu dianggap sudah memberikan rasa aman dan tidak ada masalah sebaliknya jika di rasa aman itu tak bisa didapat dari ibu atau orang berikut lainnya, anak akan mencari cara lain. Dari sinilah muncul kebiasaan-kebiasaan unik yang kemudian dianggap buruk.

Seperti halnya memeluk bantal Salah satu bentuk pencarian rasa aman ketika memeluk di bawah alam sadar anak seperti kembali ke masa kanak-kanak. Bantal itu identik dengan masa kecil yang masa kecil itu indah. Jadi bantal bukan sekedar benda yang dipakai untuk tidur tapi ada makna lain. Kalau diambil secara paksa dan tiba-tiba itu sama saja memisahkan anak dari wilayah nyamannya. Seharusnya rasa aman itu kita ganti dengan bentuk lain perhatian misalnya.

Rasa aman bisa diberikan pada anak melalui ucapan belayan sentuhan dekapan dan pelukan. Yang paling terasa adalah yang terakhir itu pelukan. Saat dipeluk, anak akan merasa nyaman dan kehangatan yang mengalir dari sang ibu.

Denyut jantung ibu yang biasa anak dengar saat ada di rahim menimbulkan rasa aman dan nyaman pada anak.

Jangan dipaksa

Apapun alasan atau faktor yang mempengaruhi pada dasarnya anak-anak tidak memiliki keinginan untuk melakukan hal atau kebiasaan buruk. Kengongotannya tidur dengan bantal kesayangan hanyalah cara untuk merasa aman. Namun orang tua Melihatnya sebagai sesuatu yang buruk hingga harus dihentikan segera.

Orang tua tidak perlu khawatir dengan subjek anak kebiasaan itu bisa berhenti begitu saja namun waktunya memang tidak dapat diperkirakan dan bisa muncul kembali.

Kebanyakan orang tua langsung ingin memberhentikan kebiasaan buruk anak padahal seharusnya tidak begitu anak memang perlu diingatkan tapi jangan dipaksa. Menurut psikolog dari lembaga terapan Universitas Indonesia itu kebiasaan buruk anak harus dianalogikan dengan kekuatan cinta.

Jika sudah cinta tentu sulit dicegah atau dihentikan. Jadi kalau anak sudah merasa aman dengan memasukkan tangan ke mulut atau memeluk bantal pasti sulit sekali untuk dilarang tapi bukan berarti jadi dibiarkan begitu saja.

Kebiasaan buruk seharusnya dilakukan bukan dari sisi anak saja tapi orang tua juga untuk mengatasi hal ini ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan

Cara menghentikan kebiasaan buruk anak

1. Observasi kebiasaan anak

Dengan begitu anda jadi lebih tahu bila ada perubahan perilaku pada si kecil

2. Cari penyebab

Misalnya pada beberapa anak mungkin kebiasaan buruk itu muncul setelah adiknya lahir. Kadang orang dewasa tidak menyadari perbuatan mereka membuat anak kurang sreg. Jika memungkinkan tanyakan langsung pada anak Mengapa Ia melakukan kebiasaan buruk tersebut. Tapi biasanya jika sedang cemas anak akan sulit menjawab jangan dipaksa

3. Tanamkan dalam benak

bahwa kebiasaan buruk itu masih wajar untuk anak anak.

Tapi tetap sadari bahwa kebiasaan itu muncul karena ada kebutuhan anak tidak terpenuhi. Tugas orang tua adalah mencari tahu kebutuhan apakah itu

4. Dengan memahami bahwa kebiasaan buruk ini hal wajar, orang tua tidak lagi terlalu ngotot saat memberi tahu atau menegur anak.

Emosi yang meluap-luap malah akan membuat anak semakin cemas

5. Setiap anak perlu rasa aman dan nyaman.

Jadi berilah sentuhan dan belaian serta pelukan. Lakukan sesering mungkin. Terutama saat anak terlihat gelisah atau cemas.

6. Yakinlah bahwa kebiasaan anak itu akan hilang

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mengalikan kebiasaannya contoh ketika tangan anak dimasukkan ke mulut pegang tangannya sambil ajak bicara.

Memang langkah-langkah di atas tidak menjamin kebiasaan buruk anak bisa hilang 100% tapi ini tentu tetap lebih baik dibandingkan tidak menegur sama sekali kenapa? Karena bisa jadi anak akan berpikir kebiasaan guru itu bukan masalah.

Bersikaplah tenang saat menegur anak sikap marah tanpa ada usaha memperbaiki tentu tidak akan membawa hasil. Bisa-bisa anak akan semakin tidak peduli terhadap Apa perkataan orang tua.

About the author

Mohammad Kahfi

Pengetahuan adalah kebebasan, dan ketidaktahuan adalah perbudakan.

Leave a Comment